Makhluk Sosial & Media Sosial: Terhubung Tapi Kesepian?
Coba jujur—berapa kali kita ngecek media sosial hari ini? Sekali? Dua kali? Atau jangan-jangan… tiap lima menit? 👀
Tenang, kamu nggak sendirian. Di era saat ini, kita semua hidup berdampingan (atau bahkan ketergantungan) sama media sosial. Chatting, posting, story-an, scrolling TikTok sampai jam 2 pagi—udah jadi bagian dari rutinitas harian. Tapi kalau di pikir-pikir… sebenernya kita lagi benar-benar terhubung, atau cuma sekadar daring?
Komunikasi Zaman Dulu vs Sekarang
Manusia itu makhluk sosial, no debate. Dari zaman batu, kita udah ngobrol pake simbol dan gambar di dinding goa. Sekarang? Cukup kirim emoji. 🤷♂️
Dulu komunikasi harus ketemu langsung, sekarang cukup buka WhatsApp, Telegram, atau DM di Instagram. Menurut data dari We Are Social & Kepios (2024), pengguna aktif media sosial di Indonesia sudah mencapai 139 juta orang, atau sekitar 49% dari total populasi. Dan rata-rata waktu yang dihabiskan buat medsos? 3 jam 6 menit per hari. Yup, hampir separuh jam kerja dalam sehari habis di sana.
Interaksi Sosial vs Interaksi Media Sosial
Ngasih like, komen, atau reply story itu memang bentuk interaksi. Tapi apakah itu bisa disebut interaksi sosial?
Menurut para ahli psikologi sosial, interaksi sosial yang sesungguhnya butuh respons langsung, bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan keterlibatan emosional yang nyata. Dan itu tidak bisa dipenuhi 100% lewat layar.
Sebuah studi dari American Psychological Association (2022) bilang, generasi yang paling aktif di media sosial juga jadi generasi yang paling tinggi tingkat kesepiannya. Sounds familiar?
Realita yang Sering Terjadi
Pernah nggak, lagi nongkrong tapi semuanya sibuk main HP?
Yang satu update story IG, yang lain scroll TikTok, yang satu lagi stalking akun mantan atau gebetan, Padahal duduknya satu meja. Saking asyiknya sama dunia virtual, kita jadi miss out momen-momen penting di sekitar kita. Bahkan, di tempat umum pun lebih nyaman buka sosmed daripada ngobrol sama orang di sebelah dan kurang memperhatikan hal yang terjadi di dekat kita. Istilahnya sekarang “phubbing,” dan ini udah jadi masalah serius yang bikin hubungan kita sesama manusia menjadi asing.
Menurut Harvard Business Review (2021), multitasking dengan HP saat sedang interaksi sosial menurunkan kualitas komunikasi dan empati. Artinya, walaupun kita bareng-bareng, kita sebenernya nggak benar-benar hadir.
Jadi, Media Sosial itu Tidak ada Manfaatnya?
Enggak. Media sosial itu kayak pedang bermata dua—kalau dipakai dengan tepat, bisa bantu untuk ciptain peluang kerja dan cuan lewat konten kreatif, lalu bisa untuk cari informasi yang kita butuhkan sampai tren terkini. Tapi kalau dipakai sembarangan, bisa nyakitin diri sendiri.
Semuanya balik lagi ke cara kita gunain. Menurut WHO, penggunaan media sosial secara berlebihan bisa memicu kecemasan, insomnia, hingga depresi, terutama pada remaja dan dewasa muda. Jadi jangan sampai lupa sama interaksi di dunia nyata yang jauh lebih real dan bermakna. Karena pada akhirnya, yang bikin kita nyambung bukan internet, tapi hubungan yang nyata. Jangan sampai kita jadi generasi yang punya banyak followers, tapi hampa di dunia nyata.